BRAVEN

Film aksi simpel ala 80-90an memang tak lagi jadi trend sekarang. Lebih banyak mendarat ke produk-produk DTV (Direct to Video) di negaranya, itu pun dalam treatment limited release, satu-dua masih menyisakan kualitas yang paling tidak cukup layak untuk zaman sekarang. Saban Films sebagai salah satu pemainnya dalam satu-dua tahun belakangan agaknya mulai menggantikan Millennium Films.

Braven, produk terbaru mereka, memasang Jason Momoa, bintang aksi kelahiran Hawaii yang naik kelas di karir layar lebarnya setelah didapuk menjadi Aquaman dalam ansambel Justice League, setelah sebelumnya menggantikan Arnold Schwarzenegger di versi reboot Conan The Barbarian yang sayangnya gagal di pasaran.

Hidup tenang sebagai penebang kayu di daerah pegunungan Newfoundland, Canada bersama istri-anaknya, Stephanie (Jill Wagner), Charlotte (Sasha Rossof), Joe Braven (Momoa) seketika harus menghadapi amukan mafia narkoba psikotik, Kassen (Garret Dillahunt) yang menyeludupkan produknya lewat anak buah Braven, Weston (Brendan Fletcher). Bersama ayahnya, Linden (Stephen Lang), penderita demensia yang mulai bertambah parah, Braven pun mesti berjuang demi keselamatan keluarganya.

Plot dari skrip Mike Nilon dan Thomas Pa’a Sibbett ini memang terasa sangat tipis dan sudah berulang kali kita saksikan di film-film lain. Hanya saja, tetap, dalam sebuah action, faktor utama yang paling berperan untuk membuatnya beda adalah penempatan lead dan siapa sineas yang ada di baliknya. Selagi Momoa jelas punya potensi yang selama ini malah lebih tergali di serial Game of Thrones, untungnya, meski baru memulai debut penyutradaraannya, Lin Oeding yang berdarah Cina kelahiran AS adalah seorang mantan stuntman yang hampir selalu bisa dipercaya membesut film bergenre aksi.

Dengan rekor stuntman, stunt supervisor hingga stunt coordinator di sejumlah blockbuster seperti Spider-Man: Homecoming, Logan, Batman v Superman plus genre aksi modern macam The Equalizer atau Mechanic: Resurrection, Oeding memang berhasil mengarahkan Braven menjadi sebuah film aksi yang impresif. Plot tipisnya justru membuat skrip itu jadi leluasa membangun pace dan tempo yang nyaris nonstop tanpa basa-basi, namun bukan berarti kehilangan faktor hati dan emosi yang diselipkan di tengah interaksi keluarga terutama antara Braven dan ayahnya yang diperankan dengan sangat meyakinkan oleh aktor dengan persona tak kalah bad-ass, Stephen Lang. Momoa pun mampu menghadirkan sosok jagoan biasa yang terdesak oleh keadaan, begitu pula Jill Wagner sebagai Stephanie yang menempatkannya tak sekedar damsel in distress, serta Dillahunt, Teach Grant dan Zahn MacClarnon sebagai lawan-lawan tandingnya.

Sinematografi dari Brian Andrew Mendoza juga dengan cermat mampu merekam keindahan panoramik set di tengah hutan dan pegunungan bersalju sebagai arena games of survival sekaligus koreografi aksi yang inovatif dan tertata dengan baik oleh Oeding sendiri, sementara scoring dari Rob Bonz turut membangun emosi di tengah pace ketat dan penuh suspense membuat pemirsanya terpaku bersama bombardir adrenalin yang digelar. Flaming axe and arrows hingga bear-traps, di tengah desingan peluru, rasanya sudah cukup mendeskripsikan keseruan yang mengiringi seluruh durasi Braven.

So, hampir di semua sisinya, Braven boleh jadi memang tak lebih dari sebuah old-fashioned action yang sangat terus-terang. Hanya saja, bersama penempatan cast yang tepat terutama Momoa sebagai lead potensial yang kali ini dimanfaatkan dengan layak, orang-orang di belakang layarnya memang berhasil menghadirkan sebuah inovasi dengan takaran ketegangan yang sangat terjaga.

Mungkin Anda Menyukai