Darkest Hour

Aktor Gary Oldman sudah menggondol piala Golden Globe atas perannya sebagai mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dalam film terbaru yang akan segera rilis di Indonesia, Darkest Hour. Kritikus film sudah memperkirakan ia juga akan menyabet Piala Oscar bulan depan.

Darkest Hour menceritakan tentang masa-masa awal pemilihan Churchill sebagai perdana menteri Inggris pada masa Perang Dunia II. Parlemen Inggris saat itu berniat melengserkan PM Neville Chamberlain yang kemudian mengundurkan diri dari posisinya.

Partai Konservatif menominasikan kandidat lain, Edward Wood. Churchill bukanlah pilihan utama. Namun pada akhirnya ialah yang terpilih.

Reputasi Churchill sebagai politisi hingga saat itu memang kurang menguntungkannya. Ia dianggap tidak dapat diandalkan dan kerap terburu-buru dalam mengambil keputusan, yang berakibat fatal sehingga menewaskan ribuan prajurit Inggris dalam perang-perang sebelumnya.

Bahkan Raja George VI pun seolah terpaksa menerima keputusan dan menerima Churchill dengan berat hati.

Namun, lama kelamaan, bukan hanya Raja George VI dan para politisi lainnya yang menentang kebijakan Churchill, tapi rakyat Inggris beralih mendukungnya menyatakan perang terhadap Jerman yang saat itu dikuasai Nazi di bawah kepemimpinan Hitler.

Wood bersikeras agar Inggris menerima perundingan dengan Italia dan Jerman, namun Churchill tetap kukuh terhadap pendiriannya. Bernegosiasi dengan Italia dan Jerman, menurut Churchill, artinya tunduk kepada diktator. Inggris hanya akan menjadi boneka yang dikendalikan oleh Adolf Hitler dan Benito Mussolini.

Jika di Indonesia, Presiden Joko “Jokowi” Widodo terkenal merakyat dengan gaya blusukannya, begitu pula dengan Churchill. Ia berniat mencari tahu “mood” rakyatnya terhadap Perang Dunia II ini dengan “blusukan” menaiki kereta bawah tanah.

Alhasil rakyat biasa pun terkejut dibuatnya, seorang perdana menteri naik kereta tanpa pengawal. Di dalam perjalanan singkat itu ia bertanya kepada rakyatnya, yang terdiri dari beragam demografik, mulai dari pria kulit putih, ibu-ibu, pria kulit hitam, perempuan muda, hingga anak kecil.

Tak ada rakyat yang mau negara mereka “menyerah” kepada Jerman melalui jalan damai. Mereka rela berperang demi mempertahankan harga diri.

Pesan rakyat itu yang ia sampaikan kepada anggota kabinetnya dan parlemen, di mana ia mengutarakan pidato dengan berapi-api dan disambut tepuk tangan dan sorakan meriah dari partai oposisi. Partai Konservatif yang menaunginya, yang sejak awal tidak mendukungnya, pun akhirnya berbalik haluan. Melihat reaksi anggota parlemen dan rakyat yang mendukung keputusan Churchill pun sontak berubah pikiran.

Churchill tercatat dalam sejarah sebagai salah satu orang Inggris paling terkemuka di dunia. Ia memainkan peran penting dalam memimpin negaranya bertahan selama Perang Dunia II. Ia juga diakui membantu keyakinan negara-negara sekutu untuk memenangkan Perang Dunia II melawan kekejaman yang paling buruk yang pernah dilihat dunia.

Jika kamu menyukai film perang yang berbau sejarah dan politik, Darkest Hour wajib ditonton. Selain menikmati akting Gary Oldman yang keren dan dapat merepresentasikan sisi eksentrik Churchill dengan baik, penonton juga dapat belajar mengenai intrik politik yang bertarung antara kekuasaan dan keberpihakan terhadap rakyat.

Aspek sejarah dalam film ini juga bersinggungan dengan adegan-adegan di sejumlah film lain, seperti Dunkirk (2017) dan Atonement (2007). Jika dalam film Dunkirk penonton disajikan bagaimana misi penyelamatan tentara Inggris di Pulau Dunkirk, di Darkest Hour, kita bisa melihat behind the scene yang mengorkestrakan rencana tersebut. Ialah Churchill yang memiliki ide untuk mempergunakan kapal-kapal warga dan nelayan untuk menyelematkan prajurit Inggris dan sekutu yang terjebak di Dunkirk

Mungkin Anda Menyukai