Review Film Insidious 3 The Last Key

Chapter 3 dari serial bioskop Insidious the last key. akan hadir kembali menyapa penonton Indonesia mulai 10 Januari 2018. Insidious: The Last Key, demikian judul saga keempat franchise ini, berpusat pada kisah Elise Rainier, paranormal yang juga muncul di film sebelumnya, bergelut dengan teror masa lalu.

Mengutip Variety, sekuel terbaru ini sebagian besar mengambil setting tahun 2010, sesaat sebelum peristiwa di film pertama. The Last Key juga dipenuhi dengan kilas balik, dimulai dengan prolog pada era 1950-an dan menggambarkan masa kecil tak menyenangkan Elise.

Elise, puteri seorang sipir penjara, yang saat itu duduk di kelas enam tinggal di sebuah rumah yang berderit di bawah bayang-bayang penjara New Mexico. Bakat paranormalnya yang baru menarik rasa ingin tahu adiknya yang nakal, Christian, dan ayahnya yang kasar, Gerald.

Ayahnya tidak mempercayai kemampuannya, sementara sang ibu mengatakan pada Elis dia hanya sedikit berbeda.

Pada adegan awal, Elise kemudian mendapati dirinya terperangkap di ruang bawah rumahnya pada malam hari. Ia mendapat isyarat untuk mengikuti suara seorang anak kecil agar membuka pintu merah misterius, yang ternyata punya konsekuensi tragis.

Kembali ke masa kini, Elise menerima telepon dari pemilik baru rumah masa kecilnya, yang telah mengalami fenomena aneh tersendiri. Ia awalnya enggan melihat kembali ke masa lalunya yang traumatis. Namun, dia dengan cepat mengalah dan memutuskan kembali ke kota kecil New Mexico dengan dua asistennya.

Klien barunya memiliki kemiripan yang mencolok dengan ayahnya bahkan gaya berjalannya. Elise hampir tidak menemukan kejadian aneh di rumah tersebut sampai berbagai penampakan mulai merangkak keluar.

Elise kemudian kembali ke kota bertemu dengan saudaranya dan kedua putrinya yang telah dewasa. Christian sempat marah dan menyalahkan Elise karena telah meninggalkannya saat berusia 16 tahun. Tak lama, keduanya pun memutuskan kembali ke rumah tua yang angker itu.

Salah satu yang menjadi daya tarik The Last Key adalah Lin Shaye yang memerankan Elise. Sebagai seorang aktris karakter veteran Shaye tahu betapa jarangnya memiliki peran seperti ini pada usia 74, dan dia menghayati perannya ke dalam setiap adegan.

“Sebagai aktris, saya biasanya datang dengan backstory saya sendiri biasanya. Bahkan jika penonton tidak pernah melihat apa itu, itu juga semacam menginformasikan kehadiran karakter di seluruh film. Ide saya tentang dia [Elise] sebenarnya sangat berbeda. Aku selalu melihatnya sebagai seorang anak,” papar Shaye dalam wawancara kepada Collider.

Shaye menilai cerita Insidious: The Last Key fantastis dan menyentuh banyak hal yang sangat penting sebagai film thriller dan horor yang menarik sekaligus. Saga Insidious ini, ia menambahkan, banyak berhubungan dengan keluarga yang menyentuh semua orang dengan cara tertentu.

Film ini memang sangat mencekam, bagi anda yang tidak tahan dan pobia dengan kegelapan, lebih baik anda membawa hetset sehingga anda tidak terlalu terbawa film ini. Sebab hetset dapat membantu kita untuk tidak mendengarkan lagu lagu, dan effect2 horor yang menakutkan, ibaratnya adalah , suara atau sound sistem membawa dampak dramatisir sebanyak 40% dan 60% nya adalah gambar video, jadi akan sangat membantu sekali dimana di saat ada adegan yang sangat menakutkan, anda dapat menutup telinga anda dengan hetset dan menyetel lagu.

Mungkin Anda Menyukai