Wonderstruck

Diadaptasi dari novel karangan Brian Selznick, Wonderstruck menceritakan tentang seorang anak laki-laki berumur 12 tahun bernama Benjamin yang biasa dipanggil Ben (Oakes Fegley). Ia selalu mempertanyakan ke ibunya (Michelle Williams), siapakah ayahnya dan di manakah ia berada? Sayang, pertanyaan itu belum sempat terjawab dikarenakan ibunya meninggal karena kecelakaan. Ketika Ben sedang bernostalgia mengenang ibunya, ia mengalami sebuah musibah yang merusak pendengarannya dan mengakibatkan ia menjadi tuna rungu.

Ada juga Rose (Millicent Simmonds) yang bersetting di Hoboken, New Jersey pada tahun 1927. Rose merupakan seorang anak tuna rungu yang artistik dan mengidolakan sang silent screen star, Lillian Mayhew (Julianne Moore). Dikarenakan situasi dan keadaan, sang ayah memiliki waktu yang sedikit untuknya dan lebih sering memarahi dan menyuruhnya untuk belajar bahasa isyarat. Rose tidak tahan dengan kehidupannya.

Kedua karakter ini memiliki koneksi yang cukup erat. Dalam film itu diceritakan bahwa Ben akhirnya memutuskan untuk pergi ke New York demi mencari keberadaan ayahnya. Sedangkan Rose pergi ke New York untuk bertemu dengan sang idola, Lillian. Ke manakah cerita Wonderstruck akan membawa kita?

Sesuai dengan judulnya, Wonderstruck akan membuat kalian terpana dengan keindahan visual tanpa banyak dialog. Dengan didukung alunan musik dan melodi yang merdu, kisah Ben dan Rose semakin terasa emosional. Todd Haynes selaku sutradara mengemas visualisasi yang kontras antara Ben dan Rose. Ben pada tahun 1977 dipenuni dengan warna cerah, neon, dan modern. Sedangkan Rose pada tahun 1927 dengan warna hitam putih tanpa dialog. Lokasi syuting yang menarik juga ditunjukkan dalam film ini, seperti The American Museum of Natural History yang membawa kita menjelajah seisi museum.

Akting para pemain juga turut diapresiasi, apalagi Julianne Moore yang berperan ganda sebagai Lillian dan Rose masa dewasa. Sang artis cilik pendatang baru, Millicent Simmonds, berhasil mengambil perhatian dengan karakternya yang menawan dan tentunya terlihat kreatif dengan nuansa pakaian vintage.

Sayang sekali, beberapa kritik tetap dilayangkan. Film dengan genre drama keluarga ini tidak jelas target audiensnya. Untuk anak-anak, film ini terlalu sulit pada beberapa alur. Sedangkan untuk remaja-dewasa, kisahnya dinilai kurang atraktif. Film ini juga terkesan nanggung dikarenakan adegan bisu yang setengah-setengah dengan pengembangan karakter yang kurang menunjang kisahnya. Jika dibandingkan dengan bukunya, film Wonderstruck tentu masih perlu berbagai polesan dan tidak dibuat nanggung. Mungkin ia bisa menjadi film bisu seluruhnya atau tidak tidak ada adegan bisu sama sekali.

Wonderstruck memang masih belum dibilang sempurna, apalagi karena Todd Haynes yang sebelumnya terkenal dengan film Carol pada tahun 2015 pastinya membuat para penonton berekspektasi tinggi untuk melihat hasil karya mengagumkan dari sang sutradara. Meski begitu, film ini bisa menghangatkan hati penonton dan tetap layak untuk ditonton.

Mungkin Anda Menyukai